“Pernah ambil mata kuliah filsafat? Ngobrol sama dosen filsafat?”
“Ada yang insightful, emangnya?”
“Ada, njir.” Setelah jawaban itu terlontar, matanya yang tajam mulai memicing; mengikuti gerak lengan sang kawan, yang berhasil meraih lembar kertas putih, lalu meletakkannya di atas meja mereka. “Gue pernah denger soal stoicism atau stoikisme, teori yang ditemuin sama para filsuf Stoik. Nih, gue gambar lingkaran.”
Lingkaran pertama berhasil dibentuknya. Mata si penggambar mengikuti garis yang baru saja dibuat, lalu ia tatap sejenak. Kemudian, tarikan garis terdengar lagi, membentuk lingkaran kedua yang sedikit lebih kecil dan berada tepat di dalam yang pertama. Kepalanya kini miring beberapa derajat untuk memeriksa simetri dari hasil coretannya. “Gue tulis di luar dua buletan, ‘Things I can’t control.’ Perhatiin, Dir.”
“—Di dalam buletan paling kecil ini, ‘Things I can control.’” Berhenti sejenak tangan yang digunakan untuk menulis. Dan mata tajam itu, kini menatap dalam-dalam gambaran sang lawan bicara. “Satu. Gimana lu ngomong dan treat orang lain,” ujar si penggenggam pena, sembari menuliskan deretan kata.
“It’s bad. It’s always been bad.” Kini, si penjawab senderkan punggung lebarnya pada tembok kantin yang warnanya telah memudar.
“Dua, waktu, energi, dan perhatian lu.” Si penerap teori tentang pikiran manusia itu melanjutkan. “Respons lo ke orang lain, boundaries lo ke orang…, how you let orang lain *affect—*memengaruhi lu.”
Langit cerah menaungi lapang utama kampus, tempat ratusan mahasiswa terlihat haus, akan keadilan. Mereka memaksa telinga untuk mendengar suara orasi—yang bergema di antara sudut-sudut luar gedung rektorat itu. Tidak peduli akan panas yang menyengat, mereka tetap berdiri tegap, bersama poster-poster yang dilebarkan seperti sayap. Poster yang menyuarakan transparansi anggaran kampus, desakan untuk berhenti menyalahgunaan dana mahasiswa, serta keadilan kampus yang semestinya untuk seluruh mahasiswa—bukan hanya kaum elit saja.
Jaket dan celana jeans yang ia kenakan menyerap lebih banyak panas ke tubuhnya. Lantas, ia lepaskan jaket itu dan sisakan kaos hitam untuk tubuh atasnya, berharap kulitnya bisa lebih banyak terkena angin—atau mungkin justru terkena panas matahari secara langsung. Menjadi salah satu yang mencolok bukanlah sesuatu yang ia harapkan, namun hal itu terjadi begitu saja, sebab tubuhnya menjulang lebih dari yang lain, suaranya begitu lantang saat meneriakkan seruan pemimpin orasi, serta tatapannya sangat tajam dan awas—seakan menjaga keamanan demonstrasi adalah tugas.
Salah satu orator berteriak lantang dari atas meja yang dijadikan panggung dadakan, melayangkan protes akan ketidakadilan yang nyatanya baru terkuak, tak lama setelah si penggambar lingkaran—kawan terdekat Dirga—terpaksa memutus studinya di tengah perjuangan. “… Kami datang hari ini membawa suara mereka yang terbungkam! Suara mereka yang menyerah! Mereka yang dipaksa keluar dari bangku kampus, yang bahkan bukan karena kemalasan! Bukan juga karena mereka gagal! Tapi karena sistem kalian yang bobrok! Sistem kalian yang gagal memahami kebutuhan kami sebagai mahasiswa!”
“Beasiswa yang hanya segelintir, biaya kuliah yang melambung tinggi tanpa transparansi! Tekanan yang terus-menerus hingga banyak dari kami yang tumbang sendirinya! Dan kalian cuma bisa bilang, ‘bukan tanggung jawab kami!’ Inikah wajah pendidikan kita?!” Riuh sorakan kembali menggema. “Apa artinya pendidikan tinggi kalau hanya bisa dijangkau oleh segelintir orang?! Orang-orang elit, orang-orang berduit?! Lalu, kepada dosen yang mungkin lupa apa itu mimpi, kami mengingatkan lagi!”
Dirga, meski berada di kerumunan belakang, mulai menaiki salah satu kursi untuk membentang posternya lebih tinggi. “Anda sekalian, dulunya juga seorang mahasiswa! Ingat?! Anda tahu bagaimana sulitnya membagi waktu, menghadapi tekanan, bahkan mencari uang untuk biaya kuliah! Tapi mengapa saat ini kalian memandang kami dengan sinis? Dengan jijik?! Mengapa bisa-bisanya berkata, ‘kalau tidak mampu, jangan kuliah di sini!’ Bukankah kalian juga pernah bermimpi seperti kami?!’
Seruan Dirga dalam keadaan sunyi setelah si orator mengakhiri kalimatnya, menjadi penyemangat untuk lainnya. Ia angkat lebih tinggi poster itu dengan kedua tangan, memutarnya ke segala arah, sembari menatap kerumunan di sekelilingnya, seakan melihat ketidakadilan—uang kampus yang hilang entah ke mana, dana-dana penelitian yang katanya dialihkan ke kantong pribadi, fasilitas kampus yang rusak, sementara para dosen menikmati kenyamanan di ruang mewah mereka.
Sesaat setelah Dirga lompat dari kursinya berdiri, mata awas itu menatap beberapa dosen dan staf administrasi yang berdiri di tepi kerumunan. Menyadari dirinya salah dari seorang pelapor—untuk mencari keadilan temannya yang tak lagi di sini—kaki itu menyiapkan ancang-ancang untuk masuk ke kerumunan.
“Dirga Adhyawijaya!” Lantas ia mendapati lengan kasar mencengkeram kerah kaos belakangnya, menariknya semakin jauh dari kerumunan, buat poster miliknya terjatuh dan tertinggal. Dirinya terseret tak jauh dari tempat semula ke tempat yang lebih sepi di bawah pohon besar. Beberapa mahasiswa di deretan belakang kerumunan yang sebetulnya tak memiliki keberanian, hanya mampu melihat, terdiam, dan bingung apakah harus campur tangan atau tetap pada tujuan.
Tamparan datang lebih cepat daripada otaknya yang tengah memeroses situasi. Rasa panas menjalar di pipi kiri Dirga yang memerah seketika. Wajah tua yang ia kenali itu menyadari bahwa namanya sudah tercoreng begitu kotor—baik di hadapan Dirga maupun mahasiswa lainnya, juga menyadari bahwa yang ia hadapi ini adalah salah satu pelapor paling keras kepala dan pemegang bukti paling nyata. Namun, tamparan kerasnya seakan berkata bahwa, ia merasa Dirga, sebagai anak dari seorang dosen terkemuka di luar sana, seharusnya diam daripada berpartisipasi dalam demo atau mengkritik sistem yang ada—toh, tak ada yang dirugikan darinya.